21 Tahun (part 1)

Tepat Rabu, 25 April 2012 lalu usia saya telah resmi berumur 21 tahun. Sudah berbulan-bulan berlalu, tapi hari ini saya ingin menuliskan lagi ceritanya. Mencapai usia 21 tahun di penghujung semester masa studi saya di UIN Jakarta jurusan Kimia. Sedang berjuang menuntaskan skripsi yang tidak pernah saya suka di penghujung semester ini. Ah. Lagi-lagi skripsi.

Ulang tahun ke-21 tahun. Mama, Papa, adik-adik, sahabat, seperti biasa. Setiap tahun tak pernah lupa mengucapkan selamat ulang tahun dan hadiah kecilnya untuk saya. Mama, dan Papa. Terima kasih untuk semua kejutan dan orang-orang terkasih yang telah memberikan surprise partynya untuk saya. Kepada Mbak Ida dan teman-teman di LSM Indonesia Berseru yang dengan khusus menyiapkan kue dan memberikan pesta kecil-kecilan di kantor IB. Terima kasih. Bahagianya saya, kekeluargaan.

21 Tahun saya hidup, titik balik kehidupan yang saya alami harusnya membuat saya semakin dewasa. Pengalaman, kegiatan, hobi yang terus terasah, teman-teman dengan berbagai karakter. Terjun dalam berbagai kegiatan yang berbeda.

Berhasil mengenyam banyak ilmu secara gratis dari berbagai kegiatan dan training luar kampus serta bertemu dengan anak-anak muda hebat berprestasi yang selalu semangat melakukan perubahan untuk lingkungan sekitar. Diberi kesempatan Tuhan untuk mengasah hobi lama saya di bidang liputan dan jurnalistik di berbagai media dan sekarang di satu LSM besar secara mudah juga, seperti sudah jalannya dan tanpa hambatan, dipermudah. Alhamdulillah. Terima kasih ya Allah. Pengalaman bertambah. Banyak kesempatan untuk mencoba hal-hal dan orang-orang baru yang Tuhan hadirkan untuk saya selama 21 tahun hidup saya. Menjadi titik balik kehidupan, menjadi lebih baik. Insya Allah, Aamiin.

Semuanya tidak lepas dari rangkaian mimpi-mimpi saya yang satu persatu mulai bisa saya coret. Tidak banyak yang saya tuliskan di buku mimpi. Lebih banyak terbersit di pikiran secara spontan. Selalu, dan secara ajaib dengan kehendakNya, satu persatu keinginan saya terwujud. Sekarang masih berjuang untuk mewujudkan mimpi-mimpi saya yang masih terisa. Tidak, mimpi saya tidak akan pernah habis. Saya akan terus bermimpi sampai saya tidak bisa lagi bermimpi.

Memasak. Ya, memasak. Mimpi paling sederhana yang sempat terbersit di pikiran saya saat melihat tidak sedikit teman saya laki-laki yang pandai memasak dan lezat. Bahkan adik saya yang lelaki bisa memasak nasi goreng, ayam goreng lengkap dengan bumbunya, sambal goreng. What?

Saya harus bisa masak.!

Impian tidak sesederhana masak. Saya punya (seratus juta) mimpi dan atas ijin Allah, Insya Allah saya mampu mewujudkannya.

Penulis, dan dunia tulis menulis, mimpi puncak karir. Best seller, buku yang ingin saya hasilkan. Bukan ketenaran. Hanya ingin menyumbang kontribusi karya bagi bangsa saja. Itu aja. Lebih dari itu, ingin melihat mama papa tersenyum. Anaknya sudah menghasilkan karya. Sesederhana itulah.

Masih ada sekian puluh ribu mimpi yang berkecamuk di kepala. Tidak usah saya tuliskan disini. Cukup di buku mimpi saya dan paling banyak yang belum saya rapihkan yang letaknya di hati. Tinggal tunggu eksekusi.

Tuhan bersama hamba-hambaNya yang yakin padaNya. Maka, atas semua perjuangan dan doa kami, kabulkan semua mimpi kami ya Allah. Aamiin.

"Ka, kapan merried?" tiba-tiba Papa bertanya.

Kaget, tidak biasanya papa bertanya seperti itu pada saya. Ah, papa ada-ada saja, dalam hati.

"Oh, tingkatin kualitas diri kakak dulu aja Pa, Allah yang memilihkan nanti sesuai kualitas diri, masih asik sama dunia mimpi kakak, Pa"

Hening, Papa hanya tertawa. Mungkin hanya mengetes anaknya ini karena tidak pernah sedikitpun membahas tentang pernikahan. Hal yang absurb.


@citraptiwi

0 komentar:

Poskan Komentar