Showing posts with label Resensi. Show all posts
Showing posts with label Resensi. Show all posts

Cerita Buku: Bumi Cinta

Dear Lovely Readers...

Kali ini buku yang akan saya coba ceritakan adalah buku yang baru saja selesai saya baca. Setebal 546 halaman yang saya baca selesai dalam waktu satu minggu. Salah satu novel karya penulis yang meraih Penghargaan Sastra Nusantara Tingkat Asia Tenggara, Habiburrahman El Shirazy. Buku berjudul Bumi Cinta ini adalah buku terbitan 2010 yang diterbitkan penerbit Basmala.

Seperti buku-buku karya Kang Abik lainnya, Saya selalu terbawa emosi dari setiap segmen dan seperti menyelam lebih jauh ke dalam cerita di dalam novel. Terbawa dalam keharuan dari masing-masing karakter yang diceritakan secara kuat oleh Kang Abik. Ini juga yang Saya alami saat membaca novel beliau untuk pertama kalinya saat saya masih duduk di bangku kelas 2 SMA sekitar tahun 2007. Novel Ayat-ayat Cinta. Novel yang saat itu benar-benar menguras emosi saya. Saya menangis di akhir cerita buku Ayat-Ayat Cinta saat Maria mengucapkan kalimat Syahadat di akhir hayatnya. Seperti kebanyakan orang yang terharu, air mata jatuh begitu saja di pipi seiring dengan menutup bagian ending buku Ayat-ayat Cinta. Terkejut, papa juga ternyata membaca novel Ayat-ayat Cinta saat sedang tidak Saya baca. Saya memang tidak menyangka, karena novel percintaan apapun jenisnya bukan sama sekali genre bacaan papa. Tapi, saat itu, papa membaca Ayat-ayat Cinta. Papa menghabiskan membacanya hanya dalam waktu dua hari. Memang tidak salah jika Ayat-ayat Cinta diangkat ke layar lebar.

Back to the topic, ke judul novel Kang Abik yang berjudul "Bumi Cinta". Prolog yang dijelaskan di awal oleh Kang Abik membuat Saya rasanya tidak ada alasan untuk tidak membacanya. Novel-novelnya selalu terinspirasi saat selesai mentadabburi firman-firman Allah SWT dalam kitab suci-Nya. Seperti Ayat-ayat Cinta yang terinspirasi dari QS.Az Zukhruf [43]: 67. Kemudian, Ketika Cinta Bertasbih yang juga diangkat ke layar lebar terinspirasi setelah mentadabburi QS.At-Taubah [9]: 105. Novel Bumi Cinta ini lahir setelah Kang Abik mentadabburi QS.Al-Anfal [8]: 45-47. Bahwa setiap orang beriman sedang menghadapi ujian (musuh-musuh iman) yang mahaberat. Dan merupakan kemenangan orang-orang yang beriman, manakala menghadapi musuh yang berat. Musuh itu bisa berupa, hawa nafsu yang ingin bebas, godaan perempuan-perempuan cantik, lingkungan yang tidak mendukung dan seterusnya. Begitulah penuturan Kang Abik di bagian Prolog.

Cerita dengan setting Kota Moskwa, Rusia ini menjadi lingkungan ujian iman bagi Ayyas, mahasiswa Indonesia yang sedang melakukan visiting fellow ke MGU, sebuah Universitas di Rusia. Kepentingannya untuk melakukan riset dan study tentang Sejarah Islam di Rusia Modern membuatnya harus melewati banyak cerita dan ujian di Kota Moskwa ini. Terpaksa tinggal satu apartemen dengan dua orang wanita cantik bernama Yelena yang tidak mempercayai Tuhan dan Linor yang beragama Yahudi. Ujian iman Ayyas tidak hanya menghadapi dua orang wanita cantik di apartemennya, tapi juga dengan dosen pengganti yang membimbingnya selama di MGU bernama Doktor Annastasia. Wanita berparas cantik yang cerdas, siapapun laki-laki pasti kagum dengan wanita pintar yang satu ini.

Membaca novel ini, pengetahuan saya makin bertambah, banyak informasi-informasi yang masuk dalam pikiran saya. Bertambah tentang bagaimana zaman komunis pada masa Lenin yang kejam, tentang banyak ilmuwan barat yang memeluk Islam justru saat semakin mengetahui kecanggihan ilmu pengetahuan, tentang macam-macam atheis yang langsung dibantah jelas-jelas secara gamblang oleh Ayyas yang diceritakan saat menjadi pembicara tamu cendekiawan muslim pada seminar Ketuhanan di MGU.

Lebih dari itu, banyak yang saya dapatkan dari membaca novel ini. Lebih dari sekedar liku-liku dan konflik yang dihadapi Ayyas. Saya menemukan bahwa betapa beruntungnya saya berada di lingkungan seperti saya sekarang ini. Dengan leluasa beribadah kepada-Nya. Negara dengan penduduk islam terbesar di dunia. Kebebasan dan toleransi beragama yang dijunjung tinggi di lingkungan sekitar. Tidak ada larangan beribadah seperti yang saya coba bayangkan saat jika berada pada zaman komunis zaman Lenin di Rusia. Atau saat sekarang ini di Palestina dan jalur Gaza, saudara-saudara kita sesama muslim harus berhati-hati untuk beribadah di Tanah mereka sendiri karena peperangan yang tak kunjung usai dengan israel. Ya Allah, saya menangis dan ngeri saat membaca bagian dimana Madame Ekaterina, mama tiri Linor yang menceritakan kejadian bagaimana mama kandung Linor, seorang dokter wanita muslim berhati malaikat tewas secara mengenaskan di tangan para tentara intelejen Israel.

Ya Allah lindungilah saudara kami sesama muslim di Palestina, Libanon, Syiria dan semua negara Muslim. Berikanlah kemerdekaan dalam beribadah kepada-Mu, ya Allah. Aamiin.

Cerita dan penalaran konflik yang indah, seperti novel-novel kang Abik. Ingin rasanya bertemu dengan beliau kemudian berguru langsung dan praktek menulis, mempelajari bagaimana beliau bisa mengembangkan ide dan konflik dengan begitu runtut.

Karena sejatinya, tulisan kita bisa menjadi media dakwah. Maka, tulislah yang baik agar kamu mendapatkan yang baik. Semoga Allah selalu membimbing kita menuju jalan-Nya, selalu memberikan hidayah-Nya kepada kita. Mengumpulkan kita hamba-Nya dalam golongan orang-orang yang saling mencintai karena-Nya di akhir dunia nanti. Aamiin Allahumma Aamiin.

Cerita Buku: Melukis Pelangi

Entah apa yang harus saya tuliskan di bagian prolog resensi buku ini. Bukan seakan menjadi endorsemen, atau pengamat buku tapi saya benar-benar ingin menuliskan betapa saya sangat terhanyut dalam cerita yang dibawakan Oki Setiana Dewi ini. Kata-katanya yang mengalir, tidak dibuat-buat, tidak juga menggurui. Ceritanya yang runut dan teratur lengkap dengan pesan-pesan dan rujukan ayat-ayatNya semakin membuat saya yang membacanya terkesan dan membuka mata untuk semakin mengambil hikmah dan pelajaran dari perjalanan hidup seorang Oki Setiana Dewi.

Berawal dari mampir secara iseng ke website pribadi OSD dan membaca artikel-artikel yang ditulisnya membuat saya semakin tertarik ingin lebih mengetahui OSD. Terlebih saat saya mengetahui jika Oki pernah belajar di Rumah Qur’an Depok dan menghafal Al-Qur’an serta khusus mempelajari bahasa Arab di Makkah selama satu bulan, kegiatan yang sangat langka dilakukan seorang artis. Kalangan entertainment yang lebih mengedepankan urusan pekerjaan dengan kesibukan yang luar biasa menurut saya membuat mereka jarang memprioritaskan hal-hal semacam ini, Allahualam. Itu menurut pikiran saya, melihat pasti padatnya jadwal mereka untuk tampil dan show dari satu kota ke kota lain dan tayang di televisi yang mungkin 24 jam saja kadang tidak cukup untuk menyelesaikan bahkan satu scene. Tapi, berbeda dengan Oki, muslimah kelahiran 22 Januari 1989 ini tetap istiqamah, mempertahankan pakaian muslim yang selama ini menemaninya meraih karir dan mimpinya di Jakarta. Berpegang teguh pada prinsip dan pendiriannya untuk selalu mengedepankan urusan Akhirat untuk mencapai semua mimpinya. Semua lillahita’alla. Subhanallah.

Iya, saya kagum karena Allah. Saya kagum dan terkesan pada Oki Setiana Dewi karena Allah. Karena ketaatannya pada Islam, karena prioritas Allah yang selalu dia kedepankan diantara semuanya. Karena prinsipnya untuk selalu mengenakan pakaian muslimah walau bahkan harus rela menanggalkan mimpinya menjadi seorang artis terkenal saat itu. Saya iri, karena keteguhannya dalam berprinsip. Ujian demi ujian untuk menanggalkan pakaian muslimahnya selalu dialami Oki bahkan lebih sering ketika dia berusaha istiqamah mengenakannya.

"Kamu ini belum terkenal saja sudah sombong, ini peran utama, hanya lepas kerudung saja sudah enggan"
Pertanyaannya dalam hati waktu itu adalah, Apakah setelah kesuksesan telah Ia raih, hidayah itu masih akan ada di dirinya?

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, “kami telah beriman,” dan mereka tidak diuji?” (Q.S Al-Ankabut : 2)

Prinsipnya yang kuatlah yang membuat Oki tetap istiqamah mempertahankan semua identitas keislamannya. Lagi-lagi bicara soal prinsip. Bukankah prinsip hidup kita sudah jelas, semuanya sudah ada perintah di dalam Al-Qur’an dan akan selamat orang yang tetap berpegang teguh pada kitabNya. Itu janji Allah.

Maka, melalui buku ini, Oki menuangkan semua cerita kehidupannya dengan jelas bagaimana Allah membukakan pintu rezeki seluas-luasnya baginya setelah Ia berhijab. Allah lah yang mensutradarai langsung kehidupan Oki setelah dia memegang teguh prinsipnya untuk berhijrah. Lihatlah Oki sekarang? Siapa yang tak mengenalnya?

Artis terkenal yang pernah menyabet juara sebagai Aktris Wanita Terbaik veri Islamic Movie Days, Aktris Pendatang Baru Wanita Terbaik dan Aktris Pendatang Baru Wanita Terfavorit untuk film Ketika Cinta Bertasbih di Indonesia Movie Awards pada 2010 lalu.

Allah memang Maha Segalanya. Tentu tak ada keraguan jika Ia sudah berkehendak. Atas semua mimpi dan tujuan hidup. Allah bisa dengan mudah mewujudkannya. Ia lah yang lebih tahu apa yang terbaik untuk kita. Maka Allah sebagai sebaik-baik penolong dan pemberi keputusan. 

Hanya sekitar tiga hari saya selesai membaca buku dengan jumlah halama 334 halaman ini, lengkap saya baca juga endorsment di bagian awal. Yang paling seru adalah membaca endorsemen dari Reza M Syarief. Iya, saya memang setuju dengan kata-kata beliau untuk buku ini. Saya setuju.

Buku berisi perjalanan hidup Oki dari mulai Ia dilahirkan di muka bumi ini hingga Ia bisa terkenal seperti sekarang ini. Semua bukan dengan kebetulan. Semua tentu dengan proses, seperti yang telah Allah firmankan bahwa tidak akan berubah nasib suatu kaum jika Ia tidak berusaha untuk mengubahnya. Tidak ada yang kebetulan di dunia ini, semua tidak sia-sia.

“...Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia; Maha Suci Engkau...” (QS. 3: 191)

Membaca buku ini menjadi lecutan semangat bagi diri saya pribadi, sebagai seorang muslimah. Muslimah yang memang seharusnya harus mengedepankan prinsip hidup untuk selalu berada di jalanNya. Tidak ada keraguan sedikitpun untuk menentang kehendak Allah. Bersyukur dan menerima akan segala keputusannya setelah kita berusaha dan mendekatkan diri kepadaNya. Sungguh, skenario Allah itu sangat Indah. Terlalu Indah dan sayang jika hanya diterima dengan keluhan. 

Ya Allah, jadikanlah kami hamba-hambaMu yang selalu bersyukur. Yang beruntung mendapatkan hidayahMu, yang senantiasa istiqamah menjaga hidayah-hidayah yang telah Engkau berikan. Aamiin Allahuma Aamiin.

4 dari 5 bintang saya nilai untuk buku “Melukis Mimpi” OSD..:)

Judul: Melukis Pelangi
Penulis: Oki Setiana Dewi
Penerbit: Mizan